Semua Tentang Reverse Osmosis Di Indonesia

Sistem Informasi Teknologi penjualan perbaikan Reverse Osmosis (RO)

JAKARTA – Direktur Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU, Ir Danny Sutjiono mengatakan Reverse Osmosis Di indonesia bahwa Kementerian Pekerjaan Umum RI terus berupaya memperluas pengembangan teknologi pengolahan air laut untuk menghasilkan air bersih dan air minum, terutama di daerah-daerah terpencil dan pulau terluar yang tidak memiliki sumber air baku.

Ketika menjawab pertanyaan wartawan pada jumpa pers bersama para pemenang AMPL Award 2013 di sela-sela penutupan Konferensi Sanitasi & Air Minum (KSAN) 2013 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (31/10), Danny menjelaskan bahwa Ditjen Cipta Karya tidak berhenti untuk terus melakukan inovasi dalam penyediaan air minum bagi masyarakat di pulau-pulau terluar dan daerah terpencil.

Menurutnya, teknologi pengolahan air laut  Sistem Reverse Osmosis itu sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan, namun persoalannya adalah siapa pihak yang akan memelihara dan mengoperasikan instalasi mesin pengolah air laut (reverse osmosis) itu di daerah-daerah terpencil. Di indonesia

“Tidak mungkin menuntut masyarakat di pulau-pulau terluar dan terpencil itu untuk mengelola teknologi pengolahan air laut,Reverse Osmosis  termasuk mengoperasikan dan memelihara instalasinya. Pasti sulit. Solusi yang dapat ditempuh adalah melalui ikatan kerja sama antara pemerintah daerah dengan produsen atau kontraktor Reverse Osmosis Di indonesia selama lima tahun dan diharapkan terjadi transfer teknologi,” katanya.

Ia kemudian menyebutkan bahwa Direktorat PAM telah menyediakan teknologi pengolahan air laut Reverse Osmosis  di Pulau Madura dengan kapasitas lima liter per detik untuk masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih. 

Danny Sutjiono mengatakan bahwa mengolah air lau t menjadi air bersih dan air minum bisa dilakukan di mana saja di seluruh pelosok Indonesia Dengan Teknologi Reverse Osmosis Namun yang menjadi persoalan, selain sulitnya menunjuk masyarakat untuk mengelola, memelihara dan mengoperasikannya, juga masih sulitnya mencari operator mesin pengolah air laut yang sanggup dan bersedia tinggal di daerah terpencil.

“Tidak sulit untuk memberikan pelatihan bagi para operator untuk mengoperasikan mesin pengolah air laut, namun harus benar-benar siap tinggal di pulau-pulau terluar dan sepenuhnya mengelola instalasinya,” katanya.

Kesulitan lain adalah kemungkinan untuk mengganti peralatan mesin yang rusak, karena semuanya produk luar negeri. Ia membenarkan ada pabrik perlengkapan mesin pengolah air laut di Bekasi, Jawa Barat, namun hanya pabrik perakitan saja karena semua bahannya produk impor.

Danny kemudian menyontohkan ketika Direktorat PAM menyediakan sebuah kapal tanki yang dilengkapi fasilitas instalasi pengolah air laut (reverse osmosis/RO) untuk melayani masyarakat yang berada di beberapa pulau terluar di Provinsi Nusa Tenggara Timur.  “Kapal tanki itu dinamakan Kapal RO Tirta Nusa Samudera,” katanya.

Contoh lain adalah dibangunnya kolam laut di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang dilengkapi dengan teknologi pengolahan air laut Reverse Osmosis  dengan kapasitas 50 liter/detik. Kolam laut untuk skala kota itu sangat bermanfaat untuk masyarakat setempat, meskipun harganya lebih mahal dibanding air bersih hasil pengolahan dari sumber air baku sungai.

Direktur PAM juga menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang mengembangkan teknologi pengolah air laut menjadi air bersih untuk melayani masyarakat di enam pulau terluar dan terpencil yang tidak memiliki air baku.

Tips!!!!

Membeli Sistim Reverse Osmosis Harus Selektif  

Pastikan Mesin Reverse Osmosis di Rakit Di indonesia, 

Pastikan Penjual Memiliki Pabrik Dan tempat perakitan sendiri,

Pastikan penjual memiliki Stok Suku cadang sendiri 

Pastikan Penjual memiliki Tenaga Ahli berpengalaman Di bidang Reverse Osmosis

Kerena Mesin Reverse Osmosis Investasi Nya Tidak Murah !!!!!! 

Jangan Sampai Terjadi seperti Berita Di bawah ini !


8 Mesin Pengolahan Air di Kepulauan Seribu Jadi Rongsokan

18 March 2015

Guna memenuhi kebutuhan air baku layak minum, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menambah mesin Reverse Osmosis (RO) untuk lima pulau di Kepulauan Seribu. 


Alat penyulingan air laut menjadi air tawar layak minum yang dapat membuang polutan-polutan berbahaya ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan air minum di Kepulauan Seribu yang penduduknya sudah mencapai 21 ribu jiwa.

Kepala Dinas Tata Air, Agus Priyono, mengaku telah menganggarkan dana alokasi untuk mesin Reverse Osmosis  di Kepulauan Seribu ini. Dalam RAPBD 2015, anggaran pengadaan mesin RO sebesar Rp55 miliar untuk 5 pulau.

"Nanti tinggal bagaimana kewenangan gubernur akan gunakan APBD 2014 atau 2015. Tapi pengadaan RO ini akan tetap ada. Pengadaan RO nya empat mesin. Ada satu RO yang bisa ada di dua pulau," ujar Agus saat dihubungi  VIVA.co.id, Minggu 15 Maret 2015.

Kelima pulau tersebut adalah Pulau Tidung, Pramuka, Panggang, Kelapa, dan Untung Jawa. Ditambahkan Agus, jika tidak ada hambatan pembangunan mesin Reverse Osmosis  akan dimulai bulan Juni hingga Agustus tahun ini.

Delapan Mesin Reverse Osmosis  Rusak


Sementera itu, Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Tri Joko Sri Margianto mengaku bahwa semua mesin Reverse Osmosis (RO) milik Pemerintah DKI di Kepulauan Seribu tidak berfungsi. Alat penyulingan air laut ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Hal ini jelas dapat menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan air bersih.

"Dari delapan unit RO tidak ada satu pun yang berfungsi," ujar Tri saat dihubungi, Minggu 15 Maret 2015.

Delapan Reverse Osmosis  tersebut diantaranya tersebar di Pulau Tidung, Pramuka, Panggang, Kelapa, Untung Jawa, dan Harapan. Saat ini alat tersebut tidak berfungsi karena pemeliharaan yang kurang.

"Sepertinya di RAPBD 2013 dan 2014 tidak ada anggaran untuk memelihara RO di Kepulauan Seribu," lanjutnya.

Saat ini masyarakat Kepulauan Seribu  harus membeli air galon seharga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu yang dibeli dari Kota Tangerang.

Menurut Tri, kesulitan memperoleh air bersih terjadi hampir merata ke seluruh wilayah Kepulauan Seribu. Terutama tiga pulau utama yang padat penduduk yaitu Tidung, Panggang, dan Kelapa.

Seperti yang diketahui, di Kepulauan Seribu air bersih dapat diperoleh dengan dua cara yaitu tadah hujan serta membelinya dari Tangerang dengan membayar ongkos angkut jalur laut.

Sumber : metro.news.viva.co.id - 15 Maret 2015


Teknologi Pengolahan Air Asin Menjadi Air Siap Minum dengan Proses Osmosis Balik (Reverse Osmosis)

Deskripsi Singkat:


Seperti pada proses destilasi, teknologi Reverse Osmosis(RO) memungkinkan air asin diolah menjadi air tawar. Teknologi ini menggunakan teknologi water treatmentsecara fisika dan kimia, yang terdiri dari: 1) pemisahan zat besi dan mangan dengan penambahan KMnO4; 2) penyaringan dengan filter pasir (memisahkan kotoran kasar), filter mangan zeolit (memisahkan sisa mangan dan besi), dan filter karbon aktif (memisahkan warna dan bau); 3) proses desalinasi dengan membran RO.

Dengan konsumsi energi yang sangat rendah, air hasil olahan sudah dapat langsung diminum. Untuk kapasitas 10.000 liter/hari hanya dibutuhkan energi listrik ± 5,5 KVA.

Reverse Osmosis (RO) technology combined with chemical treatment and various media filtration allows us to produce drinking water from seawater inexpensively.

The complete device consists of 3 filtration units (Sand, Zeolite, and Active Carbon), 1 oxidizing & coagulation units (chemical: KMNO4), and 1 RO unit. Only ± 5,5 KVA is required to produce 10.000 liters of drinking water/day.

Perspektif:


Bagaimana mengolah air laut yang berlimpah dengan efisien dan ekonomis, menjadi sumber air bersih yang layak diminum?

Keunggulan Inovasi:


  • Sangat cocok digunakan di wilayah sulit sumber air tawar, seperti daerah pesisir dan pulau-pulau kecil
  • Biaya produksi air siap minum dengan proses reverse osmosisjauh lebih murah, yakni sekitar Rp 1500 per galon (20 liter)
  • Pengoperasian relatif mudah, dilakukan pada suhu kamar, kapasitas mudah untuk diperbesar

Potensi Aplikasi:


Pengolahan air laut dengan reverse osmosis bisa diaplikasikan di wilayah pesisir Indonesia atau bisnis minuman kemasan di tingkat lokal.


Reverse osmosis (Osmosis terbalik) atau RO adalah suatu metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi (lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Membran seleksi itu harus bersifat selektif atau bisa memilah yang artinya bisa dilewati zat pelarutnya (atau bagian lebih kecil dari larutan) tapi tidak bisa dilewati zat terlarut seperti molekul berukuran besar dan ion-ion. Osmosis adalah sebuah fenomena alam yang terjadi dalam sel makhluk hidup dimana molekul pelarut (biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari pelarut berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran.

Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah terlarut dari sebuah daerah konsentrasi terlarut tinggi melalui sebuah membran ke sebuah daerah terlarut rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi Tekanan osmostik Dalam istilah lebih mudah, reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui Filter yang menangkap terlarut dari satu sisi dan membiarkan pendapatan pelarut murni dari sisi satunya.

Untuk mendapatkan air tawar dari air laut bisa dilakukan dengan cara osmosis terbalik, suatu proses penyaringan air laut dengan menggunakan tekanan dialirkan melalui suatu membran saring. Sistem ini disebut SWRO (Seawater Reverse Osmosis) dan banyak digunakan pada kapal laut atau instalasi air bersih di pantai dengan bahan baku air laut.


Proses Reverse  Osmosis

Reverse Osmosis adalah proses alami. Ketika dua cairan konsentrasi yang berbeda dipisahkan oleh sebuah membran semipermeabel, cairan memiliki kecenderungan untuk bergerak dari rendah ke konsentrasi zat terlarut tinggi untuk keseimbangan potensial kimia.

Secara formal, reverse osmosis adalah proses memaksa pelarut dari daerah konsentrasi zat terlarut tinggi melalui membran semipermeabel ke daerah konsentrasi zat terlarut rendah dengan menerapkan tekanan melebihi tekanan osmotik. Aplikasi terbesar dan paling penting dari reverse osmosis adalah pemisahan air murni dari air laut dan air payau, air laut atau air payau bertekanan terhadap satu permukaan membran, menyebabkan transportasi garam-menipis air melintasi membrane dan munculnya air minum dari sisi tekanan rendah.

Membran yang digunakan untuk reverse osmosis memiliki lapisan padat dalam matriks polimer - baik kulit membran asimetris atau lapisan interfasial dipolimerisasi dalam membran tipis-film-komposit - di mana pemisahan terjadi.

Dalam kebanyakan kasus, membran ini dirancang untuk memungkinkan air hanya untuk melewati melalui lapisan padat, sementara mencegah bagian dari zat terlarut (seperti ion garam). Proses ini mensyaratkan bahwa tekanan tinggi akan diberikan pada sisi konsentrasi tinggi membran, biasanya 2-17 bar (30-250 psi) untuk air tawar dan payau, dan 40-82 bar (600-1200 psi) untuk air laut, yang memiliki sekitar 27 bar (390 psi) [3] tekanan osmotik alam yang harus diatasi.Proses ini terkenal karena penggunaannya dalam desalinasi (menghilangkan garam dan mineral lainnya dari air laut untuk mendapatkan air tawar), namun sejak awal 1970-an itu juga telah digunakan untuk memurnikan air segar untuk aplikasi medis, industri, dan domestik.

Osmosis menjelaskan bagaimana pelarut bergerak antara dua solusi yang dipisahkan oleh sebuah membran permeabel untuk mengurangi perbedaan konsentrasi antara solusi. Ketika dua solusi dengan konsentrasi yang berbeda dari zat terlarut dicampur, jumlah total zat terlarut dalam dua solusi akan terdistribusi secara merata di jumlah total pelarut dari dua solusi.

Daripada mencampur dua solusi bersama-sama, mereka dapat dimasukkan ke dalam dua kompartemen di mana mereka dipisahkan dari satu sama lain dengan membran semipermeabel. Membran semipermeabel tidak memungkinkan zat terlarut untuk berpindah dari satu kompartemen ke lainnya, namun memungkinkan pelarut untuk bergerak.Karena kesetimbangan tidak dapat dicapai oleh pergerakan zat terlarut dari kompartemen dengan konsentrasi zat terlarut tinggi untuk yang satu dengan konsentrasi zat terlarut rendah, itu bukan dicapai dengan pergerakan pelarut dari daerah konsentrasi zat terlarut rendah ke daerah-daerah konsentrasi zat terlarut tinggi.Ketika pelarut bergerak jauh dari daerah konsentrasi rendah, hal itu menyebabkan daerah-daerah untuk menjadi lebih terkonsentrasi. Di sisi lain, ketika pelarut bergerak ke daerah-daerah konsentrasi tinggi, konsentrasi zat terlarut akan menurun. Proses ini disebut osmosis. Kecenderungan untuk pelarut mengalir melalui membran dapat dinyatakan sebagai "tekanan osmotik", karena analog mengalir disebabkan oleh perbedaan tekanan. contoh Osmosis adalah difusi.

Dalam osmosis terbalik, dalam penyusunan yang sama seperti yang di osmosis, tekanan diterapkan ke kompartemen dengan konsentrasi tinggi. Dalam hal ini, ada dua kekuatan yang mempengaruhi gerakan air: tekanan yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi zat terlarut antara dua kompartemen (tekanan osmotik) dan tekanan eksternal diterapkan.


DESALINASI AIR LAUT Dengan Reverse Osmosis SWRO MENJAWAB KRISIS AIR BERSIH DAERAH PESISIR

Desalinasi Air Laut Menjawab Krisis Air Bersih Daerah Pesisir 

Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan di bumi. Sumber air tersebut ada yang diperoleh dari air tanah, mata air air sungai, danau dan air laut. Sumber air di bumi tersebut berasal dari suatu siklus air dimana tenaga matahari merupakan sumber panas yang mampu menguapkan air. Air baik yang berada di darat maupun laut akan menguap oleh panas matahari. Uap kemudian naik berkumpul menjadi awan. Awan mengalami kondensasi dan pendinginan akan membentuk titik-titik air dan akhirnya akan menjadi hujan. Air hujan jatuh kebumi sebagian meresap kedalam tanah menjadi air tanah dan mata air, sebagian mengalir melalui saluran yang disebut air sungai, sebagian lagi terkumpul dalam danau/rawa dan sebagian lagi kembali ke laut.

Meskipun Bumi 75% terdiri dari air, tapi hanya kurang dari 1% yang benar merupakan air yang siap digunakan. Krisis air bersih sudah melanda diberbagai belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia memiliki luas wilayah 5.193.252 km2 dua per tiga luas wilayahnya merupakan lautan, yaitu sekitar 3.288.683 km2. Sehingga Indonesia juga memiliki julukan sebagai benua maritim. Ironinya di tengah kepungan air laut itu ternyata masih ada beberapa tempat yang mengalami kekurangan air, terutama mengenai ketersedian air bersih. Akibatnya, di tempat seperti itu air menjadi barang eksklusif. Masyarakatnya harus membeli untuk mendapatkan air bersih (Anonymous, 2008).

Laju konsumsi air bersih di dunia meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, melebihi dua kali laju pertumbuhan manusia. Beberapa pihak memperhitungkan bahwa pada tahun 2025, permintaan air bersih akan melebihi persediaan hingga mencapai 56%. Kekurangan air bersih dapat berpengaruh terhadap banyak hal, di antaranya dapat mengurangi pembangunan ekonomi dan menurunkan tingkat kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa dunia membutuhkan suatu cara untuk meningkatkan persediaan air bersih. Salah satu sumber yang berpotensi dijadikan sumber air bersih adalah air laut. Air laut dapat dijadikan air bersih dengan proses desalinasi (Shofnita, 2009).

Isi Tulisan

Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan. Proses desalinasi melibatkan tiga aliran cairan, yaitu umpan berupa air garam (misalnya air laut), produk bersalinitas rendah, dan konsentrat bersalinitas tinggi. Produk proses desalinasi umumnya merupakan air dengan kandungan garam terlarut kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan domestik, industri, dan pertanian. Hasil sampingan dari proses desalinasi adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi tinggi (lebih dari 35000 mg/l garam terlarut).

Distilasi merupakan metode desalinasi yang paling lama dan paling umum digunakan. Distilasi adalah metode pemisahan dengan cara memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya dikondensasi untuk menghasilkan air bersih. Berbagai macam proses distilasi yang umum digunakan, seperti multistage flash, multiple effect distillation, dan vapor compression umumnya menggunakan prinsip mengurangi tekanan uap dari air agar pendidihan dapat terjadi pada temperatur yang lebih rendah, tanpa menggunakan panas tambahan.

Metode lain desalinasi adalah dengan menggunakan membran. Terdapat dua tipe membran yang dapat digunakan untuk proses desalinasi, yaitu reverse osmosis (RO) dan electrodialysis (ED). Pada proses desalinasi menggunakan membran RO, air pada larutan garam dipisahkan dari garam terlarutnya dengan mengalirkannya melalui membran water-permeable. Permeate dapat mengalir melalui membran akibat adanya perbedaan tekanan yang diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki tekanan dekat dengan tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan terus mengalir melalui sisi reaktor bertekanan sebagai brine. Proses ini tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan. Desalinasi air payau membutuhkan tekanan operasi berkisar antara 250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki kisaran tekanan operasi antara 800 hingga 1000 psi.

Dalam praktiknya, umpan dipompa ke dalam container tertutup, pada membran, untuk meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air bersih dapat mengalir melalui membran, sisa umpan dan larutan brine menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam terlarut pada larutan sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil dari container untuk mencegah konsentrasi garam terus meningkat.

Reverse osmosis (Osmosis terbalik) adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis adalah sebuah fenomena alam dalam sel hidup di mana molekul "solvent" (biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari "solvent" berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran.

Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi "solute" tinggi melalui sebuah membran ke sebuah daerah "solute" rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi tekanan osmotik. Dalam istilah lebih mudah, reverse osmosis adalah mendorong sebuah solusi melalui filter yang menangkap "solute" dari satu sisi dan membiarkan pendapatan "solvent" murni dari sisi satunya.


Reverse osmosis merupakan suatu metode pembersihan melalui membran semi permeable. Pada proses membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul, dimana suatu tekanan tinggi diberikan melampaui tarikan osmosis sehingga akan memaksa air melalui proses osmosis terbalik dari bagian yang memiliki kepekatan tinggi ke bagian yang mempunyai kepekatan rendah. Selama proses tersebut terjadi, kotoran dan bahan yang berbahaya akan dibuang sebagai air tercemar (limbah). Molekul air dan bahan mikro yang berukuran lebih kecil dari Reverse Osmosis akan tersaring melalui membran. Di dalam membran Reverse Osmosis tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar daripada molekul air misalnya molekul garam, besi dan lainnya, akan terpisah dan dalam membran osmosis balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus <0,1>.

Instalasi desalinasi dengan metode reverse osmosis di Barcelona

Sistem RO terdiri dari 4 proses utama, yaitu 

(1) pretreatment, 

(2) pressurization, 

(3) membrane separation, 

(4) post teatment stabilization:

Desalinasi dengan RO

1. Pretreatment: Air umpan pada tahap pretreatment disesuaikan dengan membran dengan cara memisahkan padatan tersuspensi, menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitor untuk mengontrol scaling yang dapat disebabkan oleh senyawa tetentu, seperti kalsium sulfat.

2. Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari umpan yang sudah melalui proses pretreatment hingga tekanan operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air umpan.

3. Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran garam terlarut, sementara membran akan memperbolehkan air produk terdesalinasi melewatinya. Efek permeabilitas membran ini akan menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk air bersih, dan aliran brine terkonsentrasi. Karena tidak ada membran yang sempurna pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir melewati membran dan tersisa pada air produk. Membran RO memiliki berbagai jenis konfigurasi, antara lain spiral wound dan hollow fine fiber membranes.

Tipe membran RO

4. Post Teatment Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran biasanya membutuhkan penyesuaian pH sebelum dialirkan ke sistem distribusi untuk dapat digunakan sebagai air minum. Produk mengalir melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar 5 hingga mendekati 7 (Shofnita, 2009).

Sistem pretreatment yang mendukung sistem RO umumnya terdiri dari tangki pencampur (mixing tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan untuk besi dan mangan (Iron & manganese filter) dan yang terakhir adalah sistem penghilang warna (colour removal).


Tabel Pandual Kualitas Air Hasil Pengolahan Sistem RO

Sumber: Herlambang

Keunggulan teknologi osmosis terbalik merupakan kecepatan proses pengolahan dalam memproduksi air bersih. Teknologi ini menggunakan tenaga pompa sehingga bisa memaksa produksi air keluar lebih banyak. Secara proses, sistem pengolahan osmosis ini menggunakan membran sebagai pemisah air dengan pengotornya. Pada proses dengan membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Hal ini dilakukan karena di dalam proses desalinasi air laut dengan sistem osmosis balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air lautnya. Karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi sekali (Anonymous, 2009).

Untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran osmosis balik yang mempunyai dua buah pipa keluaran, yakni pipa keluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yang telah dipekatkan. Kemudian di dalam membran osmosis balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul. Yaitu pemisahan partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, ke dalam air buangan. Karena itu air yang akan masuk ke dalam membran osmosa balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus kurang dari 0,1 mili gram, densitas ph juga harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya.

Inilah yang menjadi kelemahan dari teknologi ini. Yaitu penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat. Yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya, pada unit pengolah air osmosa balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri (Anonymous, 2009).

Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. Sekarang ini rata-rata listrik per kilowatt jam mencapai harga Rp 1.000. Produksi air bersih dari proses desalinasi bisa bersaing dengan tarif air bersih kelas komersial yang mencapai Rp 12.500 per meter kubik. Bahkan, tarif air bersih industri mencapai Rp 15.000 per meter kubik. Nilai produksi air bersih dengan teknologi desalinasi yang dikembangkan sekarang mampu menekan harga hingga Rp 9.000 per meter kubik (Alamendah, 2010).

Dengan memanfaatkan air laut dan mengolahnya sebagai air minum berarti juga mengurangi pemakaian air bawah tanah yang diyakini sebagai penyebab utama penurunan tanah di berbagai tempat terutama di Jakarta. Bahkan, tingkat penurunan tanah akibat eksploitasi air tanah yang berlebihan di Jakarta, membuat kita was-was akan bahaya tenggelamnya ibu kota negara kita dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Berita Tentang Reverse Osmosis Di Indonesia

Kelangkaan air minum yang diperburuk oleh efek-efek nyata perubahan iklim merupakan tantangan besar bagi umat manusia. Salah satu solusi guna mengatasi tantangan krusial tersebut adalah dengan mengolah air laut menjadi tawar, mengingat bahwa 97% air di dunia merupakan air laut.... Dan Perancis memiliki keahlian nyata di bidang ini.

Sejak tahun enam puluhan, Komisi Energi Atom dan Energi Alternatif Perancis (CEA) tertarik pada proses desalinasi air laut, yang tujuan awalnya melaksanakan desalinasi dengan memanfaatkan energi nuklir atau energi surya. Baru-baru ini, Perusahaan-perusahaan seperti Suez Environnement dan Veolia telah sukses mengembangkan sejumlah teknologi desalinasi air laut. Sekarang mereka mengekspor teknologi ciptaannya ke seluruh dunia.

PNGDi penghujung tahun 2012, Perancis turut berkontribusi menciptakan rekor baru. Instalasi desalinasi air laut terbesar di dunia dibangun di negara bagian Victoria, Australia. Proyek tersebut menelan biaya 2,4 milyar euro dan merupakan sumber penyedia air minum berskala besar. Situs ini dapat memproduksi hingga 450 ribu meter kubik air minum per hari, setara dengan konsumsi air kota besar seperti kota Lyon. Selain pembangunan pabrik desalinasi tersebut, Suez Environnement juga bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaannya, yang dilaksanakan oleh anak perusahaannya, Degremont. “Pabrik tersebut merupakan etalase untuk memperlihatkan keahlian kami, dan akan membantu kami memenangkan sejumlah proyek lainnya,” ujar seorang pejabat senior perusahaan tersebut dengan penuh semangat.

Australia sangat membutuhkan air minum yang dihasilkan itu, terutama akibat musim kemarau berkepanjangan selama sekitar 12 tahun. Grup perusahaan Perancis Suez Environnement amat menyadari pentingnya pasar Australia, yang dalam beberapa tahun ini telah menjadi pasar ketiga terbesar (setelah Perancis dan Spanyol) bagi perusahaan raksasa Perancis di bidang air dan kebersihan ini. Pada tahun 2012, perusahaan tersebut meraih 7% dari total pendapatannya dari Australia.

Perusahaan Suez dan Veolia, Dua Raksasa Desalinasi

Suez Environnement juga telah melebarkan sayapnya ke negara-negara lainnya. Di Arab Saudi, di antaranya, anak perusahaannya Degremont, memasok dan membangun unit-unit produksi air minum, dengan kontrak senilai 40 juta euro. Kini produksi sudah dimulai pada salah satu modulnya, yang memungkinkan pasokan air minum dialirkan ke 3000 rumah. Sebelumnya, distribusi air minum dilakukan dengan mengerahkan truk-truk tangki.

Desalinasi bahkan berkembang di Eropa, meskipun di sana belum dirasakan permasalahan signifikan terkait dengan penyediaan air minum. Degremont merupakan perusahaan pelopor desalinasi melalui metode osmosis terbalik (instalasi pertama dibangun di tahun 1969 di pulau Houat, Perancis). Sejak tahun 2009, anak perusahaan Suez Environnement ini membangun pabrik desalinasi terbesar Eropa di wilayah Barcelona (Spanyol), dengan kapasitas produksi hingga 200 ribu meter kubik per hari. Jumlah total pabrik desalinasi yang berhasil dibangun perusahaan tersebut mencapai 255 di seluruh dunia.

PNGSociété Internationale de Dessalement menduduki posisi terdepan di pasar desalinasi air laut melalui proses desalinasi termis melalui penguapan. Anak perusahaan Veolia Water Solution & Technologies ini yang berinduk ke grup perusahaan Perancis Veolia Internasional, pada mulanya, dikenal berkat teknologi desalinasi termis, dan sekarang menggunakan pula metode osmosis terbalik dan solusi-solusi hibrid yang memadukan kedua teknik tersebut.

Untuk membangun pabrik Fujairah, di Uni Emirat Arab, anak perusahaan Veolia tersebut telah memilih untuk menerapkan teknologi osmosis terbalik, seperti di Campo de Dalías, di Spanyol bagian Selatan. Lain cerita di wilayah Ashkelon, di sebelah selatan Tel Aviv di Israel, di sana dibangun pabrik berteknologi hibrid terbesar di dunia.

Dewasa ini, Grup Veolia Environnment merupakan pemimpin dunia di empat bidang sektor pelayanan kolektif : sampah, energi, angkutan, serta air dan pengolahannya. Perusahaan tersebut mempekerjakan 313 ribu orang karyawan di lebih dari 74 negara di seluruh dunia.

Desalinasi Air Berskala Besar

Menurut Asosiasi Desalinasi Internasional, kini ada sekitar 17 ribu pabrik yang beroperasi di 120 negara. Negara-negara terbesar yang menggunakan proses ini untuk menghasilkan air minum adalah negara-negara yang berada di Semenanjung Arab (terutama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab), Spanyol, Amerika Serikat dan Cina. Pemerintah Cina malahan telah mengumumkan, di awal tahun 2012, suatu rencana besar untuk meningkatkan kapasitas desalinasi hingga mencapai 2,5 juta meter kubik per hari, pada tahun 2015.

Kalangan industri Perancis juga memenuhi kebutuhan Aljazair akan teknologi desalinasi : Pihak berwenang Aljazair telah memutuskan untuk menambah instalasi pengolahan air laut dalam jumlah yang signifikan hingga tahun 2019. Banyaknya proyek baru mendorong perusahaan-perusahaan Perancis lain di sektor energi untuk turut berkecimpung di bidang ini, seperti halnya yang dialami oleh perusahaan Total Energi Venture, yang menjadi pemegang saham minoritas perusahaan NanoH2O asal Kalifornia, sejak tahun 2012. Pada skala global, omset pasar global desalinasi yang pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 7,8 milyar dolar AS, kemungkinan akan mencapai 18,3 milyar dolar AS pada tahun 2016.

Lima Pulau Jadi Prioritas Pengolahan Air Laut
( Foto : Suparni / Beritajakarta.Com)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Administrasi Kepulauan Seribu berharap, lima pulau yang menjadi prioritas lokasi pengolahan air laut menjadi air tawar dapat terealisasi tahun 2016 mendatang.

" Kita minta, Pulau Karya, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung dan Pulau Untung Jawa harus jadi prioritas utama"

Bupati Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Budi Utomo mengatakan, saat ini saluran listrik sudah tersambung di pompa air RO dan tinggal penambahan daya saja.

"Sesuai spesifikasinya, daya harus ditambah, karena kalau dulu untuk mengolah air baku, kini mengolah air laut jadi tawar," ujarnya, Selasa (20/10).

Beberapa pulau, kata Budi, telah siap mulai dari instalasi hingga peralatan, tinggal penyambungan daya listrik.

"Kita minta, Pulau Karya, Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Tidung dan Pulau Untung Jawa harus jadi prioritas utama," katanya.

Sementara, terkait semakin berkurangnya kuantitas dan kualitas air baku (air tanah) yang diproduksi Reverse Osmosis (RO), Pemkab akan mengubah spesifikasi dari pengolahan air baku menjadi air tawar, menjadi pengolahan air laut menjadi air tawar.

SEMARANG, suaramerdeka.com - Pemenuhan kebutuhan air bersih di berbagai wilayah di Jateng, terutama daerah rawan kekeringan merupakan persoalan yang harus mendapat perhatian dan penanganan serius.

Untuk itu, berbagai upaya juga akan dilakukan pemprov, salah satunya menggunakan teknologi mengolah air laut menjadi air tawar.

“Saya tertarik dengan desalinasi yang ditawarkan PT LEN. Pengolahan air laut menjadi tawar itu bisa dimanfaatkan di daerah-daerah pesisir untuk memenuhi kebutuhan air bersih, juga memasok ke daerah yang kekurangan air bersih,” ujar Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP saat beraudiensi dengan PT LEN Industri (Persero) di Rumah Dinas Puri Gedeh, kemarin.

Terkait desalinasi energi surya yang dapat mengolah air laut 80 persen menjadi air tawar dan sudah dipasang di Nias itu, Ganjar mengatakan, wilayah Jateng dengan bentangan laut di ujung utara dan selatan Jateng merupakan tempat yang tepat untuk mengambil manfaat dari proses pengolahan air laut menjadi air tawar yang bisa digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari.

“Desalinasi dan teknologi-teknologi ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Jika ada satu atau beberapa ujicoba secara gratis dari PT LEN di Jawa Tengah, saya terpaksa menyambut baik, tidak menolak,” selorohnya.

Sementara itu, Ir Agus Iswanto MSc, Direktor PT Surya Energi Indonesia (SEI) yang merupakan anak perusahaan PT LEN Industri (Persero) menjelaskan, beberapa perwakilan perusahaan BUMN yang beralamat di Bandung ini sengaja menemui gubernur Jateng untuk menawarkan beragam teknologi baru dan terbarukan baik sektor pertanian, energi, maupun teknologi informatika.

Mantap! Pengolahan Air Laut Jadi Air Minum di Balikpapan Dimulai Tahun Depan

Lirik Empat Titik, Harga Jadi Penentu


BALIKPAPAN - Studi kelayakan pemanfaatan air laut yang saat ini memasuki tahap dua menghasilkan progres menggembirakan. PT ... selaku pemrakarsa, telah mengantongi empat titik air laut yang dianggap layak diolah menjadi air baku. Jika penelitian berjalan lancar tahun ini, maka awal 2017 produksi pun dimulai.

Kabar tersebut diungkapkan Direktur Utama PDAM Tirta Manggar Balikpapan, Haidir Effendi kepada Kaltim Post dua hari lalu. Hanya saja, dengan pertimbangan penelitian belum rampung, Haidir belum bersedia membeberkan empat titik desalinasi air laut tersebut. “Nanti dulu ya,” ucapnya. Namun, sebelum memilih lokasi di antara empat titik tersebut, pihaknya akan merekomendasikan beberapa kriteria.

Jarak dan letak menjadi pertimbangan utama karena dianggap berpengaruh terhadap kualitas air laut. Termasuk tingkat kandungan garam. Semakin tinggi kandungan garamnya, maka harganya semakin mahal.

“Setiap titik ini kan beda-beda kandungan garamnya,” imbuhnya. Pria ramah ini lantas menjelaskan, selain mengerucutnya lokasi produksi, penelitian juga sudah mengarah kepada teknologi kapasitas produksi yang digunakan.

“Pada tahap awal, mereka siap 50 liter per detik. Ini masih dalam kajian. Tapi ini perkembangan terbaru dari mereka,” jelasnya.

Namun, mengenai teknologi produksi disebut Haidir sifatnya fleksibel. Dikarenakan teknologi yang digunakan menggunakan modul, maka kapasitas produksi bisa di-upgradesetiap saat. Sebaliknya, mengenai estimasi harga yang dibebankan hingga saat ini belum bisa disimpulkan.

Agar penelitian berjalan lancar, pria berkacamata ini menyebutkan, PDAM tak membebani kapan studi desalinasi tuntas. Namun yang pasti, rampung tahun ini.

“Kami tidak buru-buru, nanti hasilnya malah enggak bagus. Biarkan mereka mencari. Prinsip kami, mana yang paling murah. Sehingga tidak membebani. Karena harganya toh kembali ke pelanggan. Makanya kami cari alternatif yang paling murah,” jelasnya.


BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Wali Kota Batam menghadiri ‎peletakan batu pertama‎ sea water reverse osmosis (SWRO) atau pengelolaan air laut menjadi air tawar diBelakangpadang, Batam, Senin (‎7/12/2015) pagi.

Direktur Pengembangan Air Minum Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum M Nasir dalam sambutannya mengatakan nantinya pembangunan SWRO tersebut mampu menyuplai kebutuhan air minum untuk 1.210 KK diBelakangpadang.

Hal itu dengan estimasi satu orang mendapatkan jatah 30 liter air/hari.

"‎Masyarakat tetap perlu berhemat, karena air ini tidak bisa memenuhi semua kebutuhan air bersih tiap orang. Paling untuk minum, masak makanan, kalau untuk mandi atau mencuci tidak bisa," ujar M Nasir.

Ia pun mengatakan pembangunan instalasi SWRO baru akan dimulai awal bulan Januari 2016, dan diperkirakan selesai paling lambat akhir 2016.

"Setelah pembangunan nantinya, untuk mengoperasikan instalasi inipun akan dibentuk unit operasi yang akan melanjutkan di sini," ucap Nasir. (*)

ROTEONLINE.com – Bupati Rote Ndao, Drs.Leonard Haning.MM meresmikan 1 paket pekerjaan pengolahan air laut menjadi air bersih/air minum dengan system Reverse Osmosis (RO) kepada  masyarakat pulau Nusa Manuk, Desa Oelasin,Kecamatan Rote Barat Daya, Jumat(13/01) siang.

Dalam sambutannya, beliau menjelaskan penyerahan paket pekerjaan pengolahan air laut di pulau Nusa Manuk tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat khususnnya kementrian pembangunan daerah tertinggal  Republik Indonesia kepada pemerintah kabupaten Rote Ndao khususnya daerah kepulauan terluar di wilayah Pulau Rote. Untuk itu, kepada masyarakat Pulau Nusa Manuk perlu menjaga dan tetap memeliharanya agar bermanfaat bagi kita semua.

Menurutnnya, pembangunan sarana air bersih tersebut dengan teknologi Reverse Osmosis ini sangat di butuhkan bagi setiap daerah yang kesulitan akan air bersih seperti Pulau Nusa Manuk dan beberapa pulau lainnya sehingga  target kedepan pemerintah akan mengusahakan lagi 1 unit mesin pengolahan air minum tersebut kepada warga di Pulau Nuse, Kecamatan Ndao Nuse dan Pulau Landu,kecamatan Rote Barat Daya.

[box title=”Tahukah Anda ?” color=”#333333″]Reverse osmosis RO (Osmosis terbalik) adalah suatu metode penyaringan yang dapat menyaring berbagai molekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran seleksi(lapisan penyaring). Proses tersebut menjadikan zat terlarut terendap di lapisan yang dialiri tekanan sehingga zat pelarut murni bisa mengalir ke lapisan berikutnya. Membran seleksi itu harus bersifat selektif atau bisa memilah yang artinya bisa dilewati zat pelarutnya (atau bagian lebih kecil dari larutan) tapi tidak bisa dilewati zat terlarut seperti molekul berukuran besar dan ion-ion. Osmosis adalah sebuah fenomena alam yang terjadi dalam sel makhluk hidup dimana molekul “solvent” (biasanya air) akan mengalir dari daerah berkonsentrasi rendah ke daerah Berkonsentrasi tinggi melalui sebuah membran semipermeabel. Membran semipermeabel ini menunjuk ke membran sel atau membran apa pun yang memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membran sel. Gerakan dari “solvent” berlanjut sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai di kedua sisi membran.[/box]

beberapa pulau yang berpenghuni di luar  Pulau Rote saat ini telah diprioritaskan pembangunannya dari KPDT dan dari pulau-pulau tersebut, dua pulaunnya sudah di beri bantuan mesin pengelolaan air bersih yaitu Pulau Usu di Landu Leko dan Pulau Nusa Manuk di Kecamatan Rote Barat Daya sehingga tahun depan pemerintah akan mengusahakan lagi Pulau Nuse dan Pulau Landu untuk mendapat jatah yang sama” kata beliau.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Rote Ndao,Drs,Leonard Haning.MM juga turut menyampaikan  apresiasi yang tinggi kepada jajaran Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia yang telah memfasilitasi kegiatan tersebut melalui alokasi dana tugas pembantuan APBNP tahun 2011 dan juga rekanan pelaksana kegiatan tersebut yakni CV Wira Buana   yang diwakili Ir.Togi Nainggolan.M.Sc  serta tokoh masyarakat pulau Nusa Manuk yang menerima program tersebut. 


Penjaga Mesin RO. Nusa Manuk Masuk Tenaga Kontrak

Posted by rotendaoonline on  in Rote Watch

ROTEONLINE.com – Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard Haning, MM menginstruksikan kepada Kepala Badan Kepegawaian Daerah untuk mengakomodir dua orang pejaga mesin pengolahan air laut menjadi air bersih dan air minum di pulau Nusa Manuk dalam pengangkatan tenaga kontrak daerah tahun anggaran 2012.

Penegasan itu disampaikan Bupati Haning, ketika meresmikan pengoperasian mesin pengolahan air laut menjadi air bersih dan air minum sistem Reverse Osmosis (RO) di Nusa Manuk, Jumat (13/01/2012) siang. Dikatakan, selain kesediaan warga menjaga mesin ini, perlu juga dua tenaga penjaga yang telah dilatih diakomodir menjadi tenaga kontrak daerah agar lebih meningkatkan pengawasan dan pemeliharaan mesin tersebut.

Saya instruksikan kepada Kepala BKD untuk mengakomodir dua orang penjaga mesin di Nusa Manuk ini dalam tenaga kontrak daerah bersama dua orang lainnya di pulau Usu,” kata Haning. Sementara konsultan Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia asal ITN Malang Ir. Togi Nainggolan, M.Sc, PT. Wira Buana selaku pelaksana pembangunan mesin pengolahan air laut menjadi air bersih dan air minum system Reverse Osmosis (RO) bagimasyarakat pulau Nusa Manuk telah melatih dua orang warga Nusa Manuk untuk mengoperasikan mesin tersebut.

Kedua orang tersebut, kata Togi Nainggolan, adalah Ady Wakijo dan Darman Nale. Menurut dia, PT. Wira Buana telah melatih dua orang tersebut bagaimana mengoperasikan mesin dan maintenance agar mesin tersebut terawat dengan baik, sehingga dapat mencapai umur pakai yang maksimal. Sementara Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Rote Ndao, Drs. Jonas Selly, MM yang dikonfirmasi di lantai dua kantor Bupati, Sabtu (14/01/2011) pagi terkait instruksi Bupati tersebut mengatakan, empat orang tenaga penjaga mesin di pulau Usu dan Nusa Manuk telah masuk dalam usulan pengangkatan tenaga kontrak TA 2012 pada SKPD Dinas Tenaga Kerja dan Trnasmigrasi (Nakertrans).

Kami memasukan empat tenaga penjaga mesin yang diinstruksikan Pak Bupati. Keempat orang tersebut telah masuk usulannya melalui Dinas Nakertrans, tinggal menunggu penetapanya melalui SK Bupati bersama tenaga kontrak lainnya,” tegas Jonas Selly. 


PERMASALAHAN KETERSEDIAAN AIR BERSIH DAN SOLUSINYA

Posted by  on July 27, 2015

Oleh: Rizky Kurniawan (Research and Education Development Himatesil)

Permasalahan penyediaan air

    Setiap musim kemarau, selalu muncul masalah kekeringan yang melanda indonesia. salah satu provinsi yang mengalami kekeringan pada satu bulan terakhir adalah Jawa Tengah. Kekeringan telah melanda sembilan kabupaten yang meliputi 530 desa. Kabupaten yang mengalami kekeringan antara lain Banjarnegara, Blora, Boyolali, Demak, Grobogan, Pati, Purbalingga, Temanggung, dan Kabupaten Wonogiri. Kekeringan ini bahkan sering terjadi pada kemarau normal untuk beberapa daerah seperti nusa tenggara. Krisis air ini sering dianggap bukan permasalahan yang krusial, padahal permasalahan krisis air ini memiliki potensi konflik yang luar biasa di masa depan, khususnya bagi penduduk di pulau Jawa dan Bali. Tindakan pengendalian untuk mengatasi masalah krisis air juga masih dilakukan dengan pendekatan simptomatik dengan gaya instan. Ketika kekeringan terjadi, maka penyelesaiannya hanya dengan distribusi air bersih melalui tangki air, penyediaan pompa, pembiran air dan perbaikan jaringan irigasi. Gaya pendekatan seperti ini sebenarnya tidak menyentuh pada akar permasalahan secara menyeluruh. Sebaliknya masalah yang dihadapi akan muncul secara berulang-ulang dan dalam intensitas yang semakin meningkat.

      Berdasarkan data dari Kementerian Riset dan Teknologi, pada tahun 2000 secara nasional ketersediaan air permukaan hanya mencukupi 23% dari kebutuhan penduduk. Sementara itu Pulau Jawa dan Bali kondisinya sudah defisit air sejak tahun 1995. Saat musim kemarau di Jawa terjadi defisit air sekitar 130 ribu juta meter kubik per tahunnya. Maka tidak aneh jika setiap musim kemarau di Jawa dan Bali seringkali terjadi krisis air di beberapa daerah.

       Krisis air tersebut menyebabkan terganggunya stabilitas ketersediaan air bagi masyarakat. Banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan akses air sehingga harus berjalan berkilo-kilo untuk mendapatkan air. Air yang didapat pun tak jarang memiliki kualitas dibawah standar. Penyediaan air minum di Indonesia masih menjadi sesuatu yang kompleks.

kekeringan

     Sumber gambar : SoloPos.com

       Di Indonesia, salah satu kendala utama dalam penyediaan air bersih adalah terbatasnya pasokan air. Sebagian besar PDAM beroperasi dengan mengandalkan air baku dari air sungai. Sementara sungai yang ada sudah banyak mengalami degradasi yang disebabkan kerusakan DAS, masalah antropogenik, dan melemahnya perlindungan terhadap sungai. Faktor perubahan iklim juga menyababkan trend (kecenderungan) debit sungai mengecil secara signifikan. Sungai Bengawan Solo turun hingga 44,18 m3/det, Sungai Serayu turun hingga 45,76 m3/det, dan sungai Cisadane turun hingga 45,10 m3/det.

      Pada musim kemarau, debit aliran dasar (base flow) sungai cenderung sangat rendah sehingga mengakibatkan permasalahan baru seperti intrusi air laut, krisis air, dan konflik dengan pengguna lain seperti untuk pertanian. Tidak hanya kuantitas, dari segi kualitas pun mengalami penurunan. Berdasarkan data kemetrian riset dan teknologi, sekitar 70% PDAM di Indonesia mengalami penurunan kualitas air.

Teknologi NTP (Natural Treatment plant) yang diterapkan di Jerman

     Penyediaan air minum di Indonesia sudah tidak bisa dikelola dengan sistem bussines as usual. Mengambil air dari sungai, mengolah, dan mendistribusikan kepada masyarakat. Dengan menurunnya kualitas dan kuantitas air sungai yang mengalami degradasi akan menyebabkan biaya operasional akan lebih tinggi. Hal ini akan berimbas dengan tingginya biaya yang dibebankan kepada konsumen. Sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah ini.

       Sutopo Purwo Nugroho, Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah di BPPT & Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB untuk sebuah media massa nasional di Jakarta menjelaskan, salah satu teknologi yang perlu dikembangkan adalah Natural Treatment Plant (NTP), yakni menyadap air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan digali atau dicoblos dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya air tanah. Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang lazim ditemui di Indonesia. Pipa-pipa horizontal yang menyebar mengelilingi dasar sumur dipasang sepanjang 60 meter sehingga memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah

      Konsep ini banyak diterapkan di Jerman.Sekitar 80% air minum dipasok dari air tanah dan mata air yang disadap dengan teknologi NTP sehingga jarang ditemukan instalasi penjernih air di Jerman. Di kota Munich, penyediaan air melalui NTP mampu mengalirkan air hingga 6,5 m3/detik untuk mencukupi 1,5 juta jiwa dan industri. Pada penerapannya, Daereah Tangkapan Air (DTA) harus diawasi secara serius. DTA seluas 6000 ha yang sebagian milik pemerintah dan sebagian milik penduduk yang umumnya adalah peternak., dijaga dari pencemaran lingkungan. Petani dilarang menggunakan pupuk kimia di DTA dan sebagai gantinya pemerintah memberikan kompensasi subsidi 250 euro per hektar dan petani diperbolehkan mengambil pupuk kompos yang diproduksi secara lokal.

      Keuntungan yang diperoleh sangat besar, karena tidak membutuhkan bahan kimia untuk mengolah air minum. Selain itu tidak diperlukan pompa distribusi karena letak reservoar berada di pegunungan. Kualitas air yang dihasilkan sekelas natural mineral water. Kualitas dan kontinuitas terjamin, dan DTA dapat dikonservasi.

     Indonesia sebagai negeri yang memiliki banyak gunung api aktif maupun non aktif sangat berpotensi untuk mengembangkan NTP. Topografi pegunungan dan perbukitan yang banyak tersebar berpotensi menjadi menara airn yang sangat besar. Namun pemanfaatan teknologi pencoblosan akuifer masih sering diabaikan. Tidak aneh jika para pakar jerman, diantaranya Prof. Dr. Cembrowiez dari Universitas Karlsruhe mengatakan “Bagi Pulau Jawa yang memiliki banyak daerah gunung api dan pegunungan dengan curah hujan yang tinggi, seharusnya tidak perlu mengalami kesulitan air. Justru fenomena aneh yang ada. Air yang begitu jernih keluar dari mata air dengan melimpah, kemudian mengalir ke sungai dan dicemari oleh limbah pertanian, domestik, industri, sampah hingga berwarna coklat dan berbau. Lalu diambil untuk air baku, diolah, didistribusikan, dan dikonsumsi oleh masyarakat. Mengapa tidak diambil di mata air saja dengan disadap lalu didistribusikan ke bawah?”

Indonesia butuh air bersih

Indonesia butuh air bersih

KETERSEDIAAN dan akses terhadap air bersih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pemerintah dan masyarakat di Tanah Air. Bahkan, dari delapan target yang ditetapkan dalam Millenium Development Goals (MDGs), Indonesia masih kesulitan untuk mencapai target peningkatan akses terhadap air bersih dan kualitas sanitasi.

Persoalan ini menjadi perhatian serius dari salah satulembaga Perserikatan Bangs Bangsa (PBB) yakni Unicef yang gencar mengkampanyekan ketersediaan air yang memadahi. Dikuti dari Unicef, bagian-bagian utama dari kegiatan dan program Unicef  di Indonesia mencakup penanganan kualitas air yang tidak memadai, cakupan sanitasi yang rendah dan kebersihan yang kurang.

Bidang itu menjadi tantangan-tantangan karena memiliki dampak pada kesehatan, gizi, pencapaian pendidikan anak dan keluarga.

Beberapa daerah di Indonesia masih kekurangan ketersediaan dan akses air bersih. Di Kalimantan misalnya, Kota Banjarmasin, Banjar, Kapuas, Palangkaraya, Pontianak  dan Balikpapan masih kesulitan untuk mendapatkan pasokan dan akses air bersih. Sementara di Nusa Tenggara Timur, tercatat Kabupaten Kupang, Ende, Sikka, Flores Timur, Belu, dan Sumba Timur mengalami krisis air bersih.

Bagian utama dari kegiatan Unicef di Indonesia adalah penanganan cakupan sanitasi yang rendah dan kebersihan yang kurang. Unicef bekerja dengan pemerintah daerah dan komunitas setempat untuk mengembangkan model praktek terbaik untuk program sanitasi masyarakat, berbagi keahlian dan mengembangkan kapasitas untuk melaksanakan lima pilar dan kemudian membantu masyarakat untuk mendapatkan dan memanfaatkan pengalaman mereka dan menyebarluaskan pengalaman tersebut dengan masyarakat lainnya.

Unicef  juga memberikan bantuan teknis kepada pemerintah untuk mengembangkan kebijakan air dan sanitasi yang lebih baik di daerah perkotaan, di mana jumlah penduduk yang meningkat dan sumber daya pemerintah yang semakin terbagi membuat tertekannya penempatan sumber daya pada sarana dan prasarana. 

Mengetahui bahwa anak dapat berperan sangat efektif dalam mengubah perilaku masyarakat mereka yang lebih luas, Unicef juga mendukung prakarsa kebersihan dan sanitasi berbasis sekolah melalui pemberian panduan tentang bagaimana meningkatkan fasilitas dan sarana sanitasi di sekolah, dan mengembangkan serta melaksanakan promosi kebersihan yang efektif di kelas-kelas.

Ini tidak hanya membantu mempromosikan kebersihan yang baik dan arti penting sanitasi yang tepat di suatu komunitas, namun juga meningkatkan lingkungan fisik pembelajaran sehingga anak didorong untuk bersekolah dan berprestasi lebih baik di sekolah.

Apalagi hampir satu dari enam anak di Indonesia masih tidak memiliki akses ke air minum yang aman, kunci tingginya faktor yang berkontribusi pada diare dan kematian anak terkait.  Diare yang sering disebabkan oleh air yang tidak bersih maupun oleh praktek-praktek sanitasi dan kebersihan yang buruk tetap menjadi salah satu pembunuh terbesar anak-anak balita di Indonesia.

Unicef  dan WHO memperkirakan, Indonesia adalah salah satu kelompok dari 10 negara yang hampir dua  pertiga dari populasi tidak mempunyai akses ke sumber air minum. Mereka adalah : China (108 juta ) , India  (99 juta) , Nigeria (63 juta) , Ethiopia (43 juta) , Indonesia (39 juta) , Republik Demokratik Kongo (37 juta) ,Bangladesh (26 juta) ; Inggris Republik Tanzania (22 juta) , Kenya (16 juta) dan Pakistan (16 juta).

Adanya kesenjangan sosial antara penduduk di kota dan desa juga menjadi penyebab mengapa kualitas sanitasi dan air bersih di Indonesia masih kurang terjaga dengan baik, kesenjangan sosial menentukan perilaku masyarakat khususnya masyarakat kurang mampu.

Banyak masyarakat kurang mampu yang masih menerapkan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sehingga merusak lingkungan, selain itu masih banyak masyarakat di daerah yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih bahkan sampai menggunakan air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dampaknya adalah berkurangnya kualitas hidup dari setiap komponen hidup manusia khususnya. Ketika kualitas hidup masyarakatnya tidak baik maka akan berpengaruh pula pada perkembangan suatu negara dalam berbagai aspek.

World Bank Water Sanitation Program (WSP) pada 2013 lalu menyebutkan, Indonesia berada di urutan kedua di dunia sebagai negara dengan sanitasi buruk. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melansir data bahwa  63 juta penduduk Indonesia tidak memiliki toilet dan masih buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah.

Pada 2010 cakupan pelayanan air minum di Indonesia baru mencapai 46 persen. Padahal, target MDGs di 2015, Indonesia harus sudah mencapai 68,87 persen. Sementara itu, target pemenuhan akses sanitasi layak harus mencapai 62,41 persen.

Pemerintah sendiri memprerkirakan Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp56 triliun setiap tahu yang diakibatkan buruknya kondisi air minum dan sanitasi. Jumlah ini setara dengan 2,3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).